.






Janji Nabi Muhammad Kepada Umat Kristiani

Jumlah umat Muslim dan Kristen melebihi 50 persen jumlah penduduk dunia ini. Jika saja mereka hidup damai, kita sudah setengah jalan menuju perdamaian dunia. Satu langkah kecil yang bisa kita ambil untuk menjalin kerukunan antara umat Islam dan Kristen adalah dengan menceritakan ulang kisah-kisah dengan pesan positif dan berusaha tidak saling menjelek-jelekkan.

Saya ingin mengingatkan baik kepada umat Islam maupun Kristen tentang janji yang pernah diucapkan Nabi Muhammad kepada umat Kristen. Pemahaman akan janji ini bisa mengubah cara umat Islam memperlakukan orang Kristen karena umat Islam biasanya menghormati hadist Nabi dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan mereka.

Pada 628 M, utusan dari Biara St. Catherine mengunjungi Nabi Muhammad untuk meminta perlindungan. Nabi menyanggupi dengan memberi mereka piagam hak-hak yang saya kutip di bawah ini secara keseluruhan. Biara St. Catherine terletak di kaki Gunung Sinai di daerah yang menjadi wilayah Mesir saat ini dan merupakan biara tertua di dunia. Koleksi manuskrip Kristen mereka luar biasa, hanya kalah oleh koleksi Vatikan. Biara ini juga merupakan salah satu situs warisan dunia dan memiliki koleksi ikon-ikon Kristen tertua, menjadikannya museum kekayaan sejarah Kristen yang tetap terjaga keamanannya selama lebih dari 1,400 tahun di bawah perlindungan Muslim.

Berikut janji Nabi Muhammad kepada St. Catherine:

Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, yang berfungsi sebagai perjanjian dengan mereka yang memeluk agama Kristen, di sini dan di mana pun mereka berada, kami bersama mereka.

Bahwasanya aku, para pembantuku, dan para pengikutku sungguh membela mereka, karena orang Kristen juga rakyatku; dan demi Allah, aku akan menentang apa pun yang tidak menyenangkan mereka. Tidak boleh ada paksaan atas mereka. Tidak boleh ada hakim Kristen yang dicopot dari jabatannya demikian juga pendeta dari biaranya. Tak boleh ada seorang pun yang menghancurkan rumah ibadah mereka, merusaknya, atau memindahkan apa pun darinya ke rumah kaum Muslim. Bila ada yang melakukan hal-hal tersebut, maka ia melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya. Bahwasanya mereka sesungguhnya adalah sekutuku dan mereka aku jamin untuk tidak mengalami yang tidak mereka sukai. Tidak boleh ada yang memaksa mereka pergi atau mewajibkan mereka berperang. Muslimlah yang harus berperang untuk mereka. Bila seorang perempuan Kristen menikahi lelaki Muslim, pernikahan itu harus dilakukan atas persetujuannya. Ia tak boleh dilarang untuk mengunjungi gereja untuk berdoa. Gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dilarang untuk memperbaiki gereja mereka dan tidak boleh pula ditolak haknya atas perjanjian ini.

Tak boleh ada umat Muslim yang melanggar perjanjian ini hingga hari penghabisan (kiamat).”

Kalimat pertama dan terakhir perjanjian ini sangat penting. Dua kalimat inilah yang menjadikan perjanjian ini universal dan abadi. Nabi Muhammad menyatakan bahwa Muslim harus hidup berdampingan secara damai dengan orang Kristen di mana pun mereka berada. Kalimat ini dengan tegas dinyatakan untuk meniadakan kemungkinan adanya upaya di masa depan untuk membatasi perjanjian ini hanya berlaku pada St. Catherine. Dengan memerintahkan umat Muslim untuk menaati perjanjian ini hingga hari kiamat, perjanjian ini juga melarang usaha pembatalan apapun di masa mendatang.

Hak-hak tersebut di atas adalah hak-hak yang tak bisa dicabut.

Nabi Muhammad menyatakan bahwa umat Kristen, secara keseluruhan, adalah sekutunya dan beliau mengecam perlakuan buruk terhadap mereka sebagai pelanggaran terhadap perintah Tuhan.

Aspek utama yang ada dalam piagam ini adalah umat Kristen menikmati hak-hak tersebut tanpa syarat. Cukup bagi perjanjian ini status mereka sebagai orang Kristen. Mereka tidak diminta untuk mengubah agama mereka,mereka tidak diharuskan membayar, dan mereka tidak mempunyai kewajiban apa pun. Ini adalah piagam hak tanpa kewajiban.

Dokumen ini memang bukan piagam modern hak-hak asasi manusia. Tetapi meski ditulis pada tahun 628 M, dokumen ini jelas-jelas melindungi hak atas properti, kebebasan beragama, kebebasan untuk bekerja, dan perlindungan terhadap keamanan individu.

Saya tahu sebagian pembaca mungkin berpikir, “terus, kenapa?”

Jawabannya sederhana saja: mereka yang ingin melanggengkan ketidakrukunan antara umat Islam dan Kristen memfokuskan diri pada masalah-masalah yang bisa memecah belah kedua umat ini dan menciptakan konflik. Tetapi jika sumber sejarah seperti janji Nabi Muhammad kepada umat Kristen ini yang dimunculkan, jembatan yang menghubungkan kedua umat ini bisa terbangun.

Perjanjian ini bisa mengilhami umat Islam untuk menafikan intoleransi dalam masyarakat dan berusaha berbuat kebaikan kepada umat Kristen yang mungkin saja merasa ketakutan terhadap Islam atau Muslim.

Ketika saya menengok sumber-sumber keislaman, saya banyak menemukan contoh-contoh toleransi dan inklusivitas beragama. Contoh-contoh itu membuat saya ingin menjadi orang yang lebih baik. Saya yakin kemampuan untuk mencari dan berbuat kebaikan ada dalam setiap diri manusia. Ketika kita menolak kecenderungan untuk berbuat baik ini, berarti kita menolak asas kemanusiaan kita sendiri.

Di tahun baru ini, saya berharap kita semua dapat meluangkan waktu untuk mencari sesuatu yang positif, dan pantas dihargai di dalam nilai, budaya dan sejarah orang lain.


- DR. MUQTADER KHAN-*

* Dr. Muqtedar Khan adalah Direktur Program Studi Islam di University of Delaware dan peneliti di Insitute for Social Policy and Understanding. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground seizin Altmuslim.com.

sumber versi englis : http://www.aljazeera.com/news/articles/39/Prophet-Muhammads-promise-to-Christians.html#comments


Allahumma Shalli Ala Muhammad Wa Ali Muhammad..


Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang jadi Teladan

Apakah Indonesia akan memiliki pemimpin seperti Mahmoud Ahmadinejad?
Mudah-Mudahan BISA

Presiden Iran saat ini: Mahmoud Ahmadinejad, ketika di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya:TV Fox (AS) : "Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?"
Mahmoud Ahmadinejad : "Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya: "Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran".
Berikut adalah gambaran Mahmoud Ahmadinejad, yang membuat orang ternganga dan terheran-heran :
  • Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan, Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.
Kesederhanaan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad
  • Mahmoud Ahmadinejad mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive.
  • Di banyak kesempatan Mahmoud Ahmadinejad bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.
Foto Mahmoud Ahmadinejad diruang kerjanya yang sangat sederhana bagi seorang presiden

  • Di bawah kepemimpinan Mahmoud Ahmadinejad, saat ia meminta menteri-menterinya untuk datang kepadanya dan menteri-menteri tersebut akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan-arahan darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri-menterinya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri-menteri tersebut berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.
  • Langkah pertama Mahmoud Ahmadinejad adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.00.
  • Sebagai tambahan informasi, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad masih tinggal di rumahnya.
  • Hanya itulah yang dimiliki seorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan, Mahmoud Ahmadinejad. Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.
  • Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa Presiden Mahmoud Ahmadinejad tiap hari selalu berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.
  • Hal lain yang diubahnya adalah kebijakan tentang Pesawat Terbang Kepresidenan, Mahmoud Ahmadinejad mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat sedangkan untuk dirinya, ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.
  • Mahmoud Ahmadinejad kerap mengadakan rapat dengan menteri-menterinya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sudah dilakukan, dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri-menterinya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, atau hal-hal seperti itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.
  • Saat harus menginap di hotel, Mahmoud Ahmadinejad meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yg tidak terlalu besar karena Mahmoud Ahmadinejad tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut. Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden?
  • Seorang Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal-pengawalnya yang selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Menurut koran Wifaq, foto-foto yg diambil oleh adiknya tersebut,kemudian dipublikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk amerika.

Mahmoud Ahmadinejad seorang presiden yang luar biasa, semoga jadi inspirasi bagi para pemimpin Indonesia

Semoga tipe pemimpin yang seperti inilah yang akan dimiliki oleh Indonesia, negara kita tercinta, yang mencintai dan dicintai seluruh rakyatnya ... amiiien...


sumber : www.ubb.ac.id

Profile PMII

Profile PMII
Indonesian Moslem Student Movement profile

Profile
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Indonesian Moslem Student Movement) is an independent student organization, established on April 17, 1960, in Surabaya. The overall identity of PMII based on the three movement scopes; intellectual, religiosity, and nationality. This identity become the moral and spiritual strength to interpret the nation life the objective of which is to enforce social justice, implement people sovereignty (democracy) and state unity of republic of Indonesia state (NKRI) is the final form. An Islamic organization, Indonesian Moslem student movement (PMII) convinces that its existence is to manifest the role of khalifatullah fil ardhi (the caliph of the god Allah on the earth ), continue the prophet hood message and become the blessing for the universe. As the Pancasila based organization, PMII processes an intact and proportional nationality commitment, which is actualized through its participation in the nation character building having sense of humanity and justice.
Such integration of understanding of the religion and the nationality above make PMII perform active dialectic with the life of people, nation and state. The real manifestation of the dialectic is the commitment of the organizations over the underlying problems of the society and the humanity, which is often negative impact, resulted from the development process. Categorically, such problem could be classified into: cultural and religious problems; economical leveling and social justice implementation; democratizations civil society empowering and human right enforcement; and environmental awareness. The reality in this picture is very influential to the movement countenance shaping of PMII and the developed orientation, the way of view, philosophical and theological standpoint, cornerstone values, and planned major programs conducted by PMII. The change of fully understood in the frame of pure awareness upon the really, of the belief of cultural tradition and its ritual, of the movement choice and its taking side in the most practical movement of the developed pattern. The meaning revolution of PMII is begun from the discourse growing as the power to keep existence against interventions, co-optations, and hegemony of external mainstream power including what has been developed and ideologized by the state.
The independence discourse then grows and keeps up to undergo metamorphosis to a new independence building. As the attempt to go head to the people power and self mastery, and thereupon grows liberations philosophy, in which the ahlusunnah wal jamaah approach does not becomes a “madzhab” anymore but merely as a manhaj al fikr (methodology of thinking), with critical studies on the universal value taking a side to civil society, critical study on repressive disquisition developed by the state, and the socialization of civil society empowering as manifestations of open society and prosperity so that free market of ideas become reality in public sphere. This discourse hence turns to be movement mainstream and the cornerstone of the movement institutionally.

PMII, Indonesia and The world
- Currently, PMII consider Indonesia and the world being handcuffed by the modern
capitalism values. The society awareness is confined and directed to one point of capitalism
mass culture and modernism positivistic thinking pattern. As a result, the creativity and
thinking pattern of human do not grow due to marginalization.
- The world, particularly Indonesia, is a plural community in the aspect of ethnic, tradition,
culture, or belief. As consequence, a frame of thinking granting equal space to either
individuals or group of society to develop their own potency and creativity is needed
maximally through open and fair dialogue.
- During the repressive and authoritarian new order ruler with its hegemony design, the public
space for Indonesian people was forfeited yanked out by the state power. Accordingly, it
resulted in mute culture in the society hence the democratization process was disrupted since
the critical attitude was seized.
- Indonesia people and even the worlds in general are still handcuffed with the religion and
tradition dogmatism. As consequence, unintentionally, there are lots or distortions regarding
the teaching and the function of religion so that it is very difficult to distinguish which the
dogma and which thinking is. Correspondingly, religions turn to be dry and frozen, even it is
not rare that religions precisely become hindrance for headway and the humanity values
enforcement.

Vision and Mission
The basic visions and mission developed by PMII are constructed from two major bases: Islam and nationality visions. The Islamic vision developed by PMII is inclusive, tolerant, and moderate one while in the case the nationality vision, PMII idealized one democratic, tolerant, nationality life developed based on joint spirit to realize the justice for all elements of the nation-citizenship without any exception.

The Paradigm of PMII
Recalling the social condition mentioned above, so the most realistic paradigm choice for PMII is Transformative critical Paradigm (PKT) to make religions values as the Transformative power against the handcuff and confinement generated from either capitalism, state, religion and others. This paradigm is believed not merely able to analyze but also able to conduct organizing, bridging, and giving orientations to either the group of movement or people. It is expected to able to realize reform to the post-freed society. This PKT was chosen as the effort to bridge the existing feebleness in the critical paradigm at the derivation area of its critical reading over the reality. Hence PKT, is demanded to possess diving instruments that could be utilized by PMII from the philosophical to the practical area.

General Program
1. To embody alliance without losing any independence while keeping the image of the
organization
2. Creating and establishing criticism in the form of thinking movement, socialization and
consolidation of discourse, realizing, empowering, and freeing education, and training and
accompanying as well.
3. Making effort to implement social engineering as penetrating and reordering paradigm and
intellectual system backed up with bargaining patterns at mass and state levels, while
deconstructions the confining systems of religiosity and culture.
4. Bridging transformation and implementation of the greatness of struggle with mass oriented
transformation to individual, from structural to cultural, from elitism to populism, from state
people transformation as the part of social ethical construction.
5. placing movement philosophy, namely liberation and independence by granting trust to
individuals to express, exploit, as well as actualize their own potency without any disrupting
from structural suppression, custom and tradition, and from the way of thinking.
6. Founding theological power with emphasized on the actions of life activities and social
attitude system as motivation in moving the history.
7. Empowering and generating awareness and awaking from internal cultural condition, from
the covering domination and hegemony

Target
PMII guards the nations morally as the from taking aside to the real future. The transparency, equality and involvement in the nationality fields constitute efforts in the reaching the target of PMII and its developed paradigm. To attain these targets, more operational process is necessary:
1. Strategic groups as the power possessing bargaining position either internally or externally
2. The participation of members, the members’ involvement in the action of PMII is an
important item for the longevity of the organization

The Program Strategies
The program strategies in this logic depart form two major components: the first, program of organizational capacity building the aim of which is to strengthen the institution and the institutional entity of PMII such as developing human resources ( management and entrepreneurships training ). The second, internal program trough MAPABA ( the period of a new member acceptance), and PKD ( basic cadre training ), as well as PKL ( advanced cadre training ). To carry out these, PMII utilizes non violence, non-confrontative, and cooperative non co-optation method.

Networks
Today member of PMII are 1.5 million of student spreading in the nation wide of Indonesia ( 19 board in the provincial and 178 branches located in the area of regencies and major cities). The great potential capacity and the institutional network, PMII has, at the further stage will be the primary driver of institution strengthening work and people empowering. In additions, PMII also developed network with various institutions and organizations either governmental, private, or NGOs, in the national and international levels. For instance, PMII often participated in such international activities as in September 1960, PMII attended the constituent meeting of the youth forum in Moscow, in the midst of the 1962 it also attended the Seminar of the World Assembly of Youth (WAY) in Kuala Lumpur. In the same year it managed to present at the festival of participated at The International seminar Studying the problem of Palestine in Cairo, and so forth.


PROFIL PMII

Profil

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia adalah organisasi kemahasiswaan yang independen dan non profit. Didirikan pada tanggal 17 April 1960 di Surabaya. Identitas PMII secara umum terletak pada tiga ruang gerak yaitu : intelektual, keagamaan dan kebangsaan. Identitas tersebut menjadi kekuatan moral dan spiritual untuk memaknai kehidupan berbangsa yang sasarannya adalah menegakkan asas keadilan social, mengimplementasikan kedaulatan rakyat
( demokrasi ), dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) adalah bentuk final.
Sebagai organisasi islam, PMII meyakini bahwa kehadirannya adalah untuk mewujudjan peran khalifatullah fil ardhi, meneruskan risalah kenabian dan rahmat bagi semua manusia. Sebagai organisasi yang berasaskan Pancasila, PMII mempunyai komitmen kebangsaan yang utuh dan proporsional, yang diaktualisasikan melalui partisipasi dalam pembangunan watak bangsa yang berperikemanusiaan dan berkeadilan. Integrasi dari paham keagamaan dan kebangsaan tersebut, mengharuskan PMII berdialektika aktif dengan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Perwujudan nyata dari dialektika itu adalah komitmen organisasi terhadap-hadap persoalan mendasar masyarakat dan kemanusiaan, yang seringkali merupakan akibat negatif yang mengiringi proses pembangunan. Secara kategori problem-problem itu dapat dipilah menjadi :
persoalan keberagaman dan kebudayaan; pemerataan ekonomi dan perwujudan keadilan social, demokratisasi, pemberdayaan masyarakat sipil ( civil society ) dan penegakan hak asasi manusia; dan kepedulian terhadap lingkungan.
Realitas dalam gambaran ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan identitas PMII dan orientasi pengembangan yang dilakukan. Gerak perubahan dimengerti dalam bangunan kesejatian kesadaran atas realitas yang penuh, kepercayaan kekeuatan budaya, tradisi dan ritualnya, pilihan gerakan dan keberpihakan serta dalam bentuknya yang sangat praktis pola-pola gerakan yang di kembangkan. Revolusi makna PMII mulai dari penumbuhan wacana indenpendensi sebagai kekeuatan untuk menjaga existensinya dari intervensi, kooptasi, dan hegemoni kekeuatan mainstream dari luar, termasuk yang dikembangkan dan di ideologikan oleh negara.
Wacana independensi kemudian berkembang dan terus melakukan metamorfosis samapai pada titik baru bangunan kemandirian. Sebagai upaya untuk mengarahkan pada kekuatan masyarakat yang independen dan mempunyai kemandirian, kemudian tumbuh filosofi gerakan liberasi. Pendekatan Ahlusunnah wal jamaah bukan lagi sebagai madzab tetapi sebagai manhaj al fikr ( metodologi berfikir ) dengan melakukan telaah kritis atas nilai-nilai universal yang memihak pada masyarakat, telaah kritis terhadap wacana-wacana yang dikembangkan oleh negara, serta pembiasaan pemberdayaan masyarakat sipil sebagai perwujudan cita-cita masyarakat terbuka ( open society ) dan sejahtera. Sehingga free market of ideas betul-betul menjadi ruang publik. Wacana ini kemudia dikembangkan sebagai mainstrem gerakan dan menjadi pijakan Pergerakan secara institusional.

PMII, Indonesia dan Dunia
- PMII memendang Indonesia dan dunia saat ini sedang terbelenggu oleh nilai-nilai
kapitalisme modern. Kesadaran masyarakat dikekang dan diarahkan pada suatu titik yaitu
budaya masa kapitalisme dan pola pikir positivistic modernisme. Akibatnya kreativitas dan
pola pikir manusia menjadi tidak berkembang karena dipinggirkan.
- Dunia, khususnya Indonesia, adalah masyarakat yang plural baik etnik, tradisi, kultur
maupun kepercayaan. Oleh karena itu sangat diperlukan kerangka berpikir yang
memberikan tempat yang sama bagi individu maupun kelompok masyarakat untuk
mengembangkan potensi diri dan kreatifitasnya secara maksimal melalui dialog yang terbuka
dan jujur.
- Selama pemerintahan orde baru yang represif dan otoriter dengan pola hegemonic, ruang
publik masyarakat Indonesia hilang karena direnggut kekeuatan negara. Damapanya adalah
berkembangnya budaya bisu dalam masyakat sehingga demokratisasi tertanggu karena
kritis diberangus.
- Masyarakat Indonesia, bahkan dunia, pada umumnya masih terbelenggu oleh dogmatisme
agama dan tradisi. Damapaknya secara sadar telah terjadi pemahaman yang distorsif
terhadap ajaran dan fungsi agama sehingga sulit membedakan mana yang dogma dan mana
pemikiran. Akibat selanjutnya, agama menjadi kering dan beku, bahkan tidak jarang justru
agama menjadi penghalang bagi kemajuan dan upaya penegakan nilai kemanusiaan.

Visi dan Misi
Visi dasar PMII dikembangkan dari dua landasan, yaitu visi keislaman dan visi kebangsaan. Visi ke islaman yang dibangun PMII adalah visi keislaman yang inklusif, toleran dan moderat. Sedangkan visi kebangsaan PMII mengidealkan satu kehidupan kebangsaan yang demokratis, tolerab, dan dibangun di atas semangat bersama untuk mewujudkan keadilan bagi seganap elemen warga bangsa tanpa terkecuali.

Paradigma
Melihat kondisi social seperti itu maka paradigma kritis transformatif ( PKT ) menjadi pilihan paradigma yang paling realistic bagi PMII untuk menjadikan nilai-nilai agama sebagai kekuatan kritis trasformatif melawan belenggu yang dsebabkan baik oleh kapitalisme, negara, agama, dan lain-lain. Paradigma ini diyakini tidak hanya mampu melakukan analisis tapi juga mempu melakukan organizing, menjembatani dan membrikan orientasi pada kelompok gerakan atau rakyat. Ia diharapkan mampu mewujudkan perubahan pasca masyarakat terbebaskan.
PKT ini dipilih sebagai upaya menjembatani kekurangan-kekurangan yang ada dalam paradigma kritis pada wilayah-wilayah turunan dari bacaan kritis terhadap realitas. Dengan demikian, PKT dituntut untuk memiliki instrument-instrumen gerak yang bisa digunakan oleh PMII mulai dari ranah ( domain 0 filosofis samapai praksis.

Program Umum
1. Mewujudkan aliansi tanpa kehilangan independensi dan tetap terjaga citra organisasi.
2. Menciptakan dan mewujudkan kritisme dalam bentuk gerakan pemikiran, sosialisasi dan
konsolidasi wacana, penyadaran dan pemberdayaan serta pendidikan dan pelatihan yang
membebaskan disamping juga melakukan pendampingan.
3. berupaya mewujudkan rekayasa social sebagai pendobrakan dan penataan kembali paradigma
dan system intelektual didukung dengan pola-pola bargaining pada tingkat massa dan negara,
diskontruksi atas system religiusitas dan kebudayaan yang mengungkung.
4. Menjembatani transformasi adan perwujudan akan keagungan perjuangan dengan
transformasi dari orientasi massa kepada individu, dari struktur kepada kultur, dari elitisme
kepada pupolisme dan transformasi dari negara kepada masyarakat sebagai bagian dari
konstruksi etika social.
5. Meletakkan filosofi gerakan, yakni liberasi dan independensi dengan memberikan
kepercayaan kepada individu untuk mengekpresiakn, mengeksploitasi, sekaligus
mengaktualisasikan potensinya tanpa harus terhambat oleh kekerasan struktur, adat istiadat
dan dalam cara berfikir.
6. Upaya pendasaran kekakuatan teologis yang ditekankan tindakan kegiatan hidup dan tata
perilaku social sebagai motivasi dalam menggerakan sejarah.
7. Melakukan penyadaran dan pemberdayaan dari kondisi cultural internalnya, dari dominasi
dan hegemoni yang melingkupinya.

Target
PMII mengawal moralitas bangsa sebagai bentuk keberpihakan riil masa depan. Keterbukaan, kesetaraan dan keterlibatan dalam kancah kebangsaan merupakan pencapaian target PMII dan paradigma yang dikembangkan. Untuk mencapai target ini dibutuhkan proses implementasi yang lebih operasional:
1. Kelompok strategis sebuah kekuatan yang memiliki bargaining position positif baik internal
maupun eksternal.
2. Partisipasi warga. Keterlibatan warga diharapkan mampu mengimplementasikan dan
mengaktualisasikan misi Pergerakan.

Strategi Program
Strategi program dalam logika seperti ini bertolak dari dua komponen utama: program pembangunan kapasistas ( capacity building ) organisasi yang ditujukan terutama pada penguatan institusi( kelembagaan )PMII seperti pengembangan human resources ( pelatihan majemen, kewirausahaan, dll) dan program-program yang bersifat internal seperti program rekruitmen anggota PMII melalui MAPABA ( Masa penerimaan anggota baru), dan PKD
( Pelatihan kader dasar) maupun pelatihan kader lanjut ( PKL ).

Jaringan Kerja
Saat ini anggota PMII berjumlah 1,5 juta lebih yang disebar di 19 kepengurusan ditingkat propinsi ( saat ini sudah mencakup semua propinsi di Indonesia), 178 cabang yang berada diwilayah kabupaten/kota diseluruh Indonesia. Dengan melihat persebaran wilayah anggota PMII yang hampir menyeluruh di semua penjuru tanah air merupakan potensi besar yang harus dimanej untuk menjadi kekuatan perubah bangsa.
PMII juga memgembangkan jaringan kerja dengan berbagai lembaga baik lembaga pemerintah maupun non pemerintah, swasta dalam skala nasional maupun internasional. Misalnya PMII pernah berpartisipasi dalam kegiatan – kegiatan yang berskala internasional seperti antaranya pada bulan September 1960 PMII, PMII ikut serta dalam constituent Meeting Of The Youth Forum di Moscow, pertengahan tahun 1962 mengikuti seminar word assembly of youth (WAY) di Kuala Lumpur, pada pertengahan tahun yang sama juga menghadiri Festival Pemuda sedunia di Helsen Finlandia. Pada tahun 1965 turut menghadiri seminar internasional yang mengkaji masalah palestina di kairo, dll.


Laman